Perbandingan Antara MySQL vs MongoDB

Pendahuluan

Database Relasional menjadi pilihan utama selama beberapa dekade, baik MySQL, Oracle, atau MS SQL. DBMS tersebut menjadi dasar dari banyak aplikasi perusahaan, namun saat ini aplikasi modern, membutuhkan lebih banyak keragaman dan skalabilitas. Database non-relasional, seperti MongoDB, telah muncul untuk memenuhi persyaratan itu, dan disebut-sebut sebagai pengganti lingkungan database relasional.

MySQL

Penggunaan MySQL dalam sebuah program

MySQL adalah DBMS data relasional (RDBMS) open source dengan fitur yang lengkap. Awalnya dibangun oleh MySQL AB yang saat ini dimiliki oleh Oracle Corporation. MySQL menyimpan data dalam tabel yang dikelompokkan ke dalam database, menggunakan Structured Query Languange (SQL) untuk mengakses data, dan perintah-perintah seperti ‘SELECT’, ‘UPDATE’, ‘INSERT’ dan ‘DELETE’ untuk mengelolanya. Informasi terkait dapat disimpan dalam tabel yang berbeda, perintah ‘JOIN’ dapat menghubungkannya, melakukan penyimpanan di tabel yang berbeda akan meminimalkan kemungkinan duplikasi data.

MySQL kompatibel dengan hampir semua sistem operasi, seperti Windows, Linux, Unix, Apple, FreeBSD, dan banyak lainnya. MySQL juga mendukung berbagai macam storage, seperti InnoDB(default), Federated, MyISAM, Memory, CSV, Archive, Blackhole, dan Merge.

MongoDB

Penggunaan MongoDB dalam aplikasi

MongoDB adalah database open source dengan document-oriented yang dikembangkan oleh 10gen, yang kemudian disebut MongoDB Inc. Dalam hal ini, dokumen dibuat dan disimpan dalam file BSON. Format binary untuk JSON (JavaScript Object Notation), sehingga mendukung semua tipe data JS.

Karena itu, MongoDB sering diterapkan untuk proyek yang menggunakan Node.Js. Selain itu, JSON juga memungkinkan transfer data antara server dan aplikasi web dengan format yang dapat dibaca manusia. Kapasitas dan kecepatan penyimpanan file ini juga lebih baik, karena itu format ini menawarkan efisiensi dan keandalan yang lebih besar.

Salah satu manfaat utama yang ditawarkan oleh MongoDB adalah penggunaan skema dinamis yang menghilangkan kebutuhan untuk mendefinisikan struktur sebelumnya. Seperti, field atau nilai tipe. Model ini memungkinkan representasi hubungan hierarkis, penyimpanan array, dan kemampuan untuk mengubah struktur rekaman hanya dengan menambahkan atau menghapus field. Solusi NoSQL ini dilengkapi dengan embedding, sharding, dan replikasi on-board untuk skalabilitas yang lebih baik dan ketersediaan tinggi.

Database mana yang cocok digunakan dalam sebuah project?

MongoDB menarik pengguna dengan filosofinya yang terbuka dan simpel, serta dukungan komunitas yang kolaboratif. Sementara beberapa pengguna melaporkan kebalikannya tentang MySQL, setelah diakuisisi oleh Oracle. Masalah lainnya adalah fokus pemilik pada pengembangan MariaDB dan penolakan pada komunitas untuk melakukan update. Faktor-faktor ini menyebabkan MySQL tidak berkembang, meskipun MySQL masih merupakan solusi untuk banyak perusahaan di seluruh dunia.

Membandingkan kecepatan MongoDB dan MySQL, developer mencatat bahwa MySQL tidak memiliki kecepatan dan mengalami kesulitan untuk mengolah volume data yang besar, sedangkan MongoDB memiliki kelebihan untuk mengatasi jumlah data yang besar dan tidak terstruktur.

Kapan kita harus menggunakan MongoDB?, anda harus mempertimbangkan persyaratan proyek dan tujuan lebih lanjut. MySQL terkenal dengan kinerja tinggi, fleksibilitas, perlindungan data yang andal, ketersediaan tinggi, dan kemudahan manajemen. Pengindeksan data yang tepat dapat memecahkan masalah dengan kinerja, memfasilitasi interaksi dan memastikan ketahanan. Tetapi, jika data yang anda miliki tidak terstruktur dan kompleks, atau anda tidak dapat menentukan skema sebelumnya, baiknya anda memilih MongoDB, apalagi jika anda perlu menangani volume data yang besar.